Awal Mula Terbentuknya Kaldera Toba
Kaldera Toba (2,88o N – 98,5o 2 E dan 2,35o N – 99,1o E) merupakan kaldera terbesar di dunia yang terbentuk pada Zaman Kuarter. Bentangalam yang dihasilkan oleh letusan “supervolcano” yang terjadi 74.000 tahun yang lalu ini terjadi melalui proses “volcano-tectonic explosive.” Peletusan ini mengikuti pola rekahan melingkar (ring-fracture) yang bersambungan. Letusan memuntahkan 2.800 km3 material vulkanik, berupa batu apung dalam jumlah yang sangat besar. Peristiwa ini menyebabkan terjadi kekosongan pada dapur magma, yang kemudian disusul dengan amblasnya tubuh gunungapi (flare-up). Erupsi “supervolcano” adalah sebuah erupsi ekplosif berkekuatan > 8 VEI (Volcanic Explosivity Index) yang memuntahkan material magmatik lebih dari 1.000 km3 (BBC, Science & Nature, 2000; de Silva, 2008; Chesner, 2012).
Hembusan material piroklastika ke atmosfer yang menyebar menyelimuti bumi memicu terjadinya “volcanic winter.” Musim dingin ini berdampak pada kerusakan lingkungan (flora, fauna) yang luar biasa, sehingga mempengaruhi populasi dan pola migrasi manusia pada saat itu (Petraglia dkk. 2007).
Gambar Ilustrasi tentang perbedaan fisik antara kaldera komposit (‘steady state’, A) dan kaldera ‘supervolcano’ (‘flare-up’ B), memperlihatkan karakteristik mula-jadi, besaran erupsi dan contohnya, Kaldera Crater Lake (Oregon, USA) dan Kaldera Toba (Sumatra, Indonesia), menurut De Silva (2008).
Gambar Peta Sebaran abu erupsi ‘supervolcano’ Toba menurut Costa (2014) (kiri), model yang memperlihatkan hembusan vertical dari material dan gas vulkanik yang menembus atmosphere (stratosphere) dan dampak terhadap lingkungan disekitarnya (tengah), dan rekaman temperature global dari 2500 BC sampai tahun 2007, memperlihatkan terjadinya anomali dalam siklus periodik akibat erupsi ‘super volcano’ Toba 74.000 tahun yang lalu (kanan).
← Kembali
Hembusan material piroklastika ke atmosfer yang menyebar menyelimuti bumi memicu terjadinya “volcanic winter.” Musim dingin ini berdampak pada kerusakan lingkungan (flora, fauna) yang luar biasa, sehingga mempengaruhi populasi dan pola migrasi manusia pada saat itu (Petraglia dkk. 2007).
Gambar Ilustrasi tentang perbedaan fisik antara kaldera komposit (‘steady state’, A) dan kaldera ‘supervolcano’ (‘flare-up’ B), memperlihatkan karakteristik mula-jadi, besaran erupsi dan contohnya, Kaldera Crater Lake (Oregon, USA) dan Kaldera Toba (Sumatra, Indonesia), menurut De Silva (2008).
Gambar Peta Sebaran abu erupsi ‘supervolcano’ Toba menurut Costa (2014) (kiri), model yang memperlihatkan hembusan vertical dari material dan gas vulkanik yang menembus atmosphere (stratosphere) dan dampak terhadap lingkungan disekitarnya (tengah), dan rekaman temperature global dari 2500 BC sampai tahun 2007, memperlihatkan terjadinya anomali dalam siklus periodik akibat erupsi ‘super volcano’ Toba 74.000 tahun yang lalu (kanan).